Saat kita lemah dalam beramal, coba lihat anak kita.

Saat Kita Lemah Dalam Beramal

Saat engkau mulai lelah dalam beramal,
coba lihat anakmu.
Mungkin hari ini mereka belum mengerti panjangnya nasihatmu,
belum memahami beratnya perjuanganmu bangun malam, menjaga shalat, menahan marah, atau belajar sabar.

Namun mata mereka merekam semuanya.
Anak tidak hanya mendengar apa yang kita ucapkan,
mereka belajar dari apa yang kita lakukan.

Saat ayah bergegas ke masjid,
anak belajar tentang panggilan iman.

Saat ibu tetap membaca Al-Qur’an di tengah lelahnya pekerjaan rumah,
anak belajar bahwa cinta kepada Allah tidak mengenal sibuk.

Dan saat orang tua berusaha memperbaiki diri meski tertatih,
anak belajar bahwa menjadi shalih bukan tentang kesempurnaan,
tetapi tentang terus kembali kepada Allah.

Kadang kita ingin anak menjadi penyejuk hati,
tetapi lupa bahwa hati anak tumbuh dari apa yang setiap hari ia lihat di rumahnya.

Rumah yang dipenuhi dzikir akan melahirkan hati yang lembut.
Rumah yang dipenuhi amarah akan melahirkan luka yang diam-diam menetap.

Maka ketika iman terasa menurun,
ingatlah bisa jadi ada mata kecil yang sedang menjadikanmu contoh hidupnya.

Jangan hanya meminta anak menjadi baik,
tetapi berjuanglah menjadi orang tua yang pantas diteladani.

Karena anak shalih bukan lahir hanya dari banyaknya nasihat,
melainkan dari keteladanan yang terus dihidupkan, meski dalam keadaan lelah.

@bunayyati

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *